Misteri Sambaran Petir di Denpasar Bali


Nyoman Sugiani (50) terbakar lebih separuh tubuhnya, Minggu (6/8/2017) sekitar 04.00 Wita, yang membuatnya kini dirawat intensif di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Kejadian terbakar yang menimpa perempuan yang beralamat di Jalan Mertasari, Sanur Kauh, Denpasar, Bali itu terbilang aneh.

Dari hasil olah tempat kejadian yang dilakukan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Denpasar, diduga kuat Sugiani tersambar petir yang menembus deretan genteng rumahnya dan kemudian mengenai Sugiani. Namun demikian ada beberapa fakta mengejutkan yang muncul dari kejadian tersebut.

Hal tersebut pun menghasilkan kesimpulan yang berbeda antara keterangan korban saksi, maupun olah TKP.

Berikut faktanya :

  1. Sugiani baru selesai memasak di dapur, mematikan kompor gas dan beranjak keluar dapur.
  2. Beberapa bagian dapur rumah Sugiani rusak parah, pintu dapur hancur, kusen bergeser, kaca pecah, tembok retak, plafon hancur dan sekitar 100 genteng berhamburan.
  3. Sugiani dilaporkan terbakar pada pukul 04.00 Wita hingga subuh itu tidak tercatat adanya petir di kawasan Mertasari, Denpasar.
  4. Keluarga korban yang sudah terjaga saat Sugiani terkena kebakaran juga mengaku tidak mendengar suara petir.
  5. Menurut data BMKG, cuaca juga tidak sedang dalam kondisi mendung, dan hujan tidak turun di sekitar wilayah Mertasari.
  6. Sugiani mengalami luka bakar pada wajah, tangan dan kakinya. Sedangkan bagian tubuh yang tertutup pakaian tidak terbakar.
  7. Bagian wajah Sugiani gosong dan membengkak.
  8. Kebakaran yang mirip dengan kejadian yang menimpa juga pernah terjadi pada 20 Juli 2016 dini hari, bagian dapur di rumah seorang pejabat Bali di Denpasar hangus dan berantakan setelah terjadi ledakan sekitar pukul 03.00 Wita. Akibat ledakan itu, kaca jendela dapur hancur, pintu garasi hancur, demikian juga genteng di atas dapur. Awalnya diduga bahwa ledakan itu berasal dari tabung gas elpiji di dapur. Namun, setelah pihak kepolisian melakukan olah TKP, diketahui bahwa tabung elpiji tetap utuh dan tidak terbakar.Kompor juga tidak terbakar

Fakta ini membuat keluarga korban merasa telah terjadi keanehan di rumahnya.

“Ini aneh, sangat aneh. Tidak ada petir dan hujan. Angin pun tidak kencang. Yang terbakar juga hanya wajah, tangan dan kakinya. Sedangkan bagian tubuh yang tertutup pakaian tidak terbakar. Semestinya kan api juga membakar bajunya,” kata Aria (52), kakak ipar Sugiani, saat ditemui di ruang IGD RSUP Sanglah, Denpasar, Minggu (6/8/2017).

Wayan Sena (57), suami korban, menguatkan keterangan Aria. Ia bercerita, saat itu istrinya baru saja selesai memasak di dapur. Kemudian dia mematikan kompor gas, dan beranjak keluar dapur. Tiba-tiba saja api menyambar Sugiani. Padahal, menurut Sena, istrinya saat itu sudah berada di pintu dapur. Akan tetapi seperti ada tangan yang menarik istrinya mundur ke dapur.

“Dia sudah mau keluar dapur tapi merasa tangannya ditarik seseorang. Tempat (rumah) saya memang angker. Percaya gak percaya, itu keyakinan saya. Kasihan saya melihat kondisi istri. Mudah-mudahan dia cepat sembuh dan cepat pulang,” jelas Sena lirih. Wayan Napel (32), anak Sugiani, kemarin terlihat terus menangis mengetahui kondisi ibunya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Denpasar, Ardy Ganggas, menjelaskan bahwa korban luka bakar Nyoman Sugiani dievakuasi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Sanglah, Denpasar, Bali dengan bantuan warga. Dia dinaikkan taksi. Sekitar pukul 06.00 Wita, Minggu (6/8/2017), korban sudah tiba di ruang IGD RSUP Sanglah dan langsung mendapatkan perawatan intensif.

Berdasarkan hasil pemeriksaan petugas medis, korban mengalami luka bakar sekitar 54 persen, yang meliputi wajah, tangan kiri, kedua kaki dan bagian perut. Menurut Wayan Sena (57), suami Sugiani, meskipun luka bakar yang dialami istrinya tergolong cukup parah namun tidak sampai dilakukan tindakan operasi.

Dia menyebutkan, luka bakar yang dialami Sugiani hanya pada kulit luar saja, sehingga untuk penanganannya, petugas medis hanya akan mengambil semua kulit luar pada daerah yang terkena luka bakar. Sedangkan untuk biaya pengobatan korban di rumah sakit diperkirakan mencapai Rp 40 juta.

Untuk menutupi biaya tersebut, dikatakan Sena, keluarganya akan meminta bantuan kepada kantor Wali Kota Denpasar.

“Biayanya besar sekali untuk ukuran kami, dan kami tidak memiliki uang sebanyak itu. Selain itu, kami sekeluarga juga tidak memiliki BPJS. Saat ini sedang diurus surat-surat untuk minta bantuan ke wali kota, “terang Sena.